Wednesday, January 6, 2016

Logika Susah Nurut


“Dikasih tau tuh susah”, “Padahal Cuma disuruh gitu aja gamau”, “kenapa kamu tidak mau mengikuti perintah saya?”

Sumber gambar: http://media.viva.co.id

Pernah kita menginginkan sesuatu dan kemudian meminta orang lain membantu kita untuk mendapatkan hal yang kita inginkan? Bagaimana reaksi mereka? Menolak atau ikut membantu? Dan bagaimana jika itu terjadi didalam kelompok seperti halnya organisasi?

Yosi      : “Dek, Beliin martabak dong!, nih uangnya”
Fauri    : “Nggk mau ah, jauh” (lagi main gadget)
Yosi      : “ih, buruan..!, lagi pengen nih. Nanti kamu dikasih juga deh”
Fauri    : “Nggk mau, tanggung nih”
Yosi      : “yaudah make motor kakak tuh, supaya gampang”
Fauri    : “bentar lagi rame nih gamenya..”
Yosi      : “lagi main apa si?”
Fauri    : “nih liat tuh bentar lagi menang” (ditunjukkan game kepada yosi)

menyadari battery gadget fauri yang akan habis, yosipun memasang charger hp dirinya di stop contact satu-satunya diruangan itu.

Fauri    : WAHH Low bat..!! kak mau ngecas nih nanti keburu mati, gantian dong!”
Yosi      : “nggk mau, sok beliin martabak dulu, baru nanti dikasih ngechas.”
Fauri    :”tuhhh yaa…”
Yosi      :”yaudah kakak nelpon hp kamu supaya cepet mati hpnya!”
fauri    :”yaudah iya, iya nanti uri beliin”
Yosi      :”hahaha, coba aja kalo dari tadi. Sok kamu berangkat nanti hpnya kakak charge”

Sudah dapat,, cara yosi menyuruh adiknya untuk membeli martabak??  
yosi menggunakan 4 cara logis untuk menyuruh adiknya membeli martabak, Yaitu:

pertama, yosi memberikan reward jika adiknya membeli martabak untuknya yaitu mendapatkan jatah sebagian martabaknya.

Kedua, yosi menurunkan tingkat kesulitan adiknya untuk melakukan apa yang ia suruh dengan meminkamkannya sepeda motor.

Ketiga, yosi menyadari fauri akan membutuhkan sesuatu yaitu stop contact untuk me-charge gadgetnya.

Dan ke empat, yosi memberikan tekanan kepada fauri dengan cara mempercepat masa habis batterynya.

Ya, dengan semakin tingginya reward yang akan dia dapatkan, tingkat kesulitan yang rendah, berkurangnya kenyaman pada dirinya, dan tekanan yang tinggi maka sangat besar kemungkinan orang tersebut setuju melakukan apa yang diinginkan.

Cara ini merupakan cara objektif yaitu tidak sampai memandang orangnya, apakah orang tersebut memiliki jabatan tinggi, berpendidikan tinggi, atau postur dan penampilan yang menarik.
Untuk memudah kan , pehatikan gambar dibawah ini.


Pada kotak 1. Cobalah untuk memberikan penghargaan yang tinggi. Bisa berupa pujian, uang, hadiah, atau bahkan pelayanan jasa. Kita bisa saja menyuruh adik kita untuk membelikan makanan diwarung sebelah rumah dengan memberinya imbalan Rp. 2.000, namun hal tersebut tidak akan berlaku jika menyuruhnya membeli melewati beberapa kecamatan. Naikkan rewardnya untuk membuat daya tarik yang besar.

Pada kotak 2. Jika kita tidak memiliki cukup reward yang dapat diberikan kepada seseorang, kita dapat memfasilitasinya untuk melakukan hal yang kita inginkan. Bisa jadi sepeda motor, sandal, pakaian anti hujan, atau ballpoint dan buku, lampu belajar, meja untuk memudahkannya belajar.

Pada kotak  3, menurut penulis merupakan cara yang sebaiknya tidak dilakukan. Karena, orang tersebut dibuat tidak nyaman seperti pada contoh diatas. Nyaman terjadi ketika kita dalam keadaan merasa tidak membutuhkan apapun. Kita bisa saja merusak atau mematikan AC, kemudian orang tersebut merasa kepanasan dan keluar dari ruangan itu. penulis lebih suka menyebutnya licik. Pada kotak ini bersifat “mengurangi”.P

ada kotak 4, bersifat “menambahkan”. Memberikan tekanan dengan cara memintanya terus menerus dapat membuat orang mengikuti keinginan peminta, namun juga dapat membuatnya berontak. Anak kecil sering melakukan ini ketika meminta sesuatu kepada orang tuanya, orang tua yang melihatnya secara objektif dia akan berfikir “saya dapet apa dari dia?”, “saya lagi capek, nggk ngerti apa ortunya abis pulang kerja?” dan efeknya lanjutnya adalah memarahi anaknya.

Cobalah melihat sisi subjektif seperti “dia adalah anakku, umurnya masih kecil sehingga logikanya belum sampai, dia belajar dari apa yang ada disekelilingnya, dia tertarik sesuatu dan dia berusaha untuk memilikinya, dia tertarik oleh mainan itu karena aku yang membawanya pada mainan itu, aku harus coba membuatnya tertarik dari apa yang ada dalam diriku”. Penulis merasa tidak semudah itu untuk menyadari hal tersebut, tetapi yang jelas kita tidak memarahi anak kita.

Cara diatas merupakan cara yang disampaikan  Eliyahu M. Goldratt dalam bukunya yang berjudul Isn’t Obvious?. Bagaimanpun setiap orang memilki motivasi berbeda untuk mengikuti perintah oranglain. 

Beberapa orang tidak ingin bekerja jika tidak diberi gaji walaupun resiko kecelakasn kerja tinggi,

Beberapa orang tidak ingin bekerja walaupun dengan gaji yang besar karena keselamatannya sangat terancam jika dia bekerja ditempat itu, 


dan  beberapa orang tidak ingin bekerja walapun akan diberi gaji dan jaminan kesehatan karena, sudah nyaman dan terjamin aman sampai cucu cucunya di tempatnya. 

Dan kebutuhan setiap manusia berbeda sesuai dengan pencapaian hirarki seperti yang digambarkan oleh Abraham Maslow. 


Sebaiknya tidak mudah mengatakan “mengapa kalian tidak mengerti?!”, atau “mengapa kalian susah diatur?!” cobalah untuk mengetahui motif mereka. Penulis sangat bersyukur jika post ini bermanfaat. Jika dirasa bermanfaat dan menarik, sebarkan kepada orang-orang yang kamu cintai untuk terus belajar memahami hidup lebih baik.

Opini terkait dengan "Logika Susah Nurut"
>> Bagaiman Judi Bekerja Terhadap Manusia

Tingkatkan kualitas hidupmu dengan mengetahui opini lebih banyak disini.

Referensi:
Goldratt, Eliyahu M. 2009. “Isn’t Obvious?”. The North River Press 
The world with theory of constraints. 2010. "Overcoming Resistance to Change - Isn't It Obvious?". https://www.youtube.com/watch?v=hcz1aZ60k7


No comments:

Sebarkan untuk dunia yang lebih baik